sebuah

ADSENSE HERE
Akhir tahun 1915 Pemerintah telah memberlakukan pasal tentang pelarangan untuk menghina pemerintah serta dilarang menjatuhkan derajat dan wibawa Gubernur Jenderal. Para tokoh Radikal-Sosialis seperti Soewardi Suryaningrat sudah di buang ke Belanda,  begitu pula sama halnya dengan Marco karena kasus dirinya yang telah menghina Justitie dan kemudian terancam hutang piutang dengan Drukkerij Insulinde Bandung. 

Kantor surat kabar Doenia Bergerak milik Marco di Purwosari Solo tutup dan diganti menjadi kantor rekening surat kabar Sarotomo milik Haji Samanhudi.[ “Persdelict Marco”, Kaoem Moeda, 6 Juli 1915] Selama dalam masa persdelict Marco ditawari oleh pihak Drukkerij Insulinde, untuk mengubah rekening perusahan Doenia Bergerak menjadi Goentoer Bergerak dengan dibawah kendali underbow Insulinde.  

Namun demikian Goentoer Bergerak bukan merupakan solusi, justru setelah itu Marco terkena fitnah karena menyebarkan tulisan culas dan radikal milik Dr. Tjipto yang berjudul “ Justitie Ngamoek!” yang dengan sembarang disebar oleh surat kabar Goentoer Bergerak No.3.[ “ Goentoer Bergerak No.3”, Kaoem Moeda, 20 Maret 1915] Karena itulah Marco terkena tambahan persdelict 6 bulan yang secara otomatis membuat pemerintah memiliki alasan membuang Marco ke Belanda.

Memasuki awal tahun 1916 pemerintah Belanda telah berhasil membungkan aktivis radikal seperti Marco dan Soewardi, hanya ada beberapa yang masih tinggal seperti Dr.Tjipto yang kemudian menggerakan surat kabar Modjopait di Solo, Goenawan di Batavia , Mochammad Joesoef di Semarang, Sosrokoernio bersama Haji Misbach di Solo, dan Abdoel Moeis di Bandung. 

Namun demikian secara formal pemerintah memandang mereka hanya sebagai aktivis pinggiran bawah tanah yang tidak memiliki pengaruh kuat di Masyarakat. Pemikiran yang selalu membuat gelisah Gubernur Jenderal sebena
ADSENSE HERE